Madu dan Racun

Kartika Jahja
Me : So you're saying, that all the offensive, grotesque, sexually degrading things that you do is not real?
Him: No. They're just gimmicks. To shock people. It's considered cool in my scene to be obscene. But that's not who I really am.
Me : So you are saying that you're basically a nice guy. You just say horrible things like mutilating little girls and feeding her remains to dogs, to sound cool and to sell records and merchandise?
Him : Hahaha. Yes exactly.
Me : I fail to see how that makes it any better. If anything, that's even worse because now I see that you're not only gross, but you're also a phony.

The invisible shackle around your ankle

As long as you are living under your parents roof, you will live by their expectations of what a good daughter is supposed to be.

Then they marry you off. You will compromise with your husband’s expectations about what a good wife is supposed to be. Perhaps even your inlaw’s expectations about how you should run your household. Then you have children. And along with the joy of motherhood, comes a new set of expectations about what a good mother is supposed to be. From your husband, your parents, his parents, society, and of course your children when they’re old enough.

So if you are an adult and you’re single today, this is your only chance to be who you want to be. It is a very short span, so use it wisely.

When you think you know the answer, defy it with a question.

Hurry, mama! Please don't let them catch you!

2 months ago - 1

“RISE WITH US!”

ONE BILLION RISING INDONESIA BAJAK METRO MINI 

Blog post tentang one billion rising indonesia di Monas 14 Februari kemarin akan segera menyusul. Sebelumnya, izinkan saya berbagi video teaser OBR Indonesia, sebab saya suka sekali dengan video sederhana ini. 

ONE BILLION RISING

Pada tanggal 14 Februari 2013 saya akan menari. Saya bukan penari, atau seseorang yang gemar, apalagi mahir berajojing. Tapi persetan dengan skill, sebab kali ini saya akan menari bersama 1 milyar perempuan dari 190 negara, serentak pada hari yang sama. Tak sekedar menari, tapi gerak tubuh kami adalah suara perlawanan terhadap perkosaan dan kekerasan pada perempuan.

Ah wacana itu lagi, katamu. Maaf kawan, ini bukan sekedar wacana. KDRT, perkosaan, diskriminasi. Kata-kata ini sering kita lihat semata sebagai berita di media dan angka pada data statistik. Kata-kata ini identik dengan aktivis dan feminis. Kata-kata ini, seakan jauh dari reaita kita.

Tapi mari kita keluarkan kata-kata ini dari cangkangnya yang terlampau berat, dan kita manusiakan kembali menjadi ‘kejadian’ dan ‘pengalaman’ yang kemungkinan besar pernah dan masih terjadi di sekitarmu. Pada orang-orang yang kamu kenal, cintai, atau bahkan mungkin… kamu sendiri. Maka akan kau sadari bahwa ini bukan sekedar wacana. Ini adalah kebusukan yang sangat nyata.

Masih belum klik? Tanyakan pada dirimu. Mengapa kita, perempuan, kerap merasa was-was saat berjalan sendirian di malam hari, masuk ke kendaraan umum, melewati tempat sepi, berada di lingkungan baru di mana kita satu-satunya perempuan. Kamu tau jawabannya. Sebab kita perempuan. Dan pengalaman mengajarkan kita bahwa dunia ini adalah ancaman bagi kita. Dan sialnya, memang demikian kenyataannya.

Mulai dari mulut-mulut kurang ajar dan tangan-tangan usil di KRL. Hingga perkosaan di kamar-kamar hotel, gang-gang gelap, tempat kerja, bahkan dalam rumah sendiri. Semakin buruk kejadiannya, semakin tak terdengar biasanya oleh siapapun, kecuali korban dan pelaku.

Mengapa kita bungkam? Sebab menceritakannya ulang saja rasanya sungguh amat sangat memalukan. Lalu kita harus menanggung sikap orang-orang yang kadang meremehkan, mengolok, atau menjadikan malapetaka kita sebagai bahan canda yang kampungan dan sangat sadis. Sebab hukum tak pernah berpihak pada kita. Sebab pada akhirnya, kita lah yang dianggap bersalah.

Sejak kecil kita perempuan diajari bahwa jika kita mau aman, maka kita lah yang harus membatasi diri. Jangan mengenakan pakaian seperti itu. Jangan keluar malam. Jangan pergi sendirian. Jangan melawan suami. Jangan ini dan jangan itu. Dan bila malapetaka terjadi pada kita, maka seolah kita lah yang salah karena telah mengundangnya.

Apakah ini adil? Benar? Tidak bagi saya. Di dunia yang ideal, perempuan dan laki-laki seharusnya bebas memilih apa yang ingin mereka lakukan, pergi ke tempat yang ingin mereka datangi, mengenakan pakaian yang ingin mereka kenakan, mengatakan apa yang mereka pikirkan, dengan rasa aman yang sama.

Tapi kenyataannya tak demikian. Apakah laki-laki yang menyanyi di bar lantas dianggap bisa dibawa pulang? Apakah laki-laki yang berjalan sendirian di malam hari lantas dianggap menjajakan diri? Apakah suami yang dianggap tak becus merawat istri lantas dipukuli sampai babak belur? Seberapa sering pembantu laki-laki dipaksa memberi layanan seksual bagi majikan perempuannya? Ganti kata ‘laki-laki’ dalam pertanyaan-pertanyaan di atas dengan ‘perempuan’, maka jawaban dari semua pertanyaan itu bisa kau jawab sendiri. (Buat laki-laki yang baca, ini bukan perdebatan gender loh. Ini hanya kenyataan)

Kekerasan dan perkosaan, tidak hanya terjadi pada satu tipe perempuan, atau satu etnis, atau satu range usia, atau satu bidang pekerjaan. Melainkan terjadi setiap hari, menimpa berbagai macam perempuan, termasuk yang seperti kamu dan aku dan ibumu dan gurumu dan kakakmu atau adikmu.

Lalu apa tanggapan dunia? Sungguh menyedihkan bagi saya melihat banyak orang di sekitar saya melumrahkan dan membiarkan semua ini terjadi. Sungguh mengenaskan melihat sesama perempuan diam dalam apati, kadang justru ikut menyalahkan korban, bahkan merasa bahwa diinjak adalah kodrat perempuan. Sungguh menjengkelkan melihat gerakan-gerakan kecil maupun besar untuk melawan kondisi ini didominasi orang-orang yang itu lagi, organisasi yang itu-itu lagi, feminis lagi, aktivis ini. Kadang dengan metode dan penyampaian yang justru semakin menjauhkan isu-isu ini dari ‘perempuan-perempuan biasa’. Lama kelamaan semangat saya jadi memudar.

Namun saat saya dengar tentang One Billion Rising, saya berpijar kembali. One Billion Rising tidak berorasi, tidak menggelar diskusi, dan tidak bermain pahlawan gender. Kita hanya menari.

One Billion Rising tidak berwacana, tidak kaku mengintimidasi, tidak menyeramkan, tidak berpolitik, tidak bersponsor, tidak beradu intelektualitas. Kita hanya menari.

Untuk berpartisipasi dalam One Billion Rising cukup dengan bergabung dengan kelompok yang ada di kotamu. Kamu tak perlu kenal dengan orang-orang yang sudah bergabung, tapi kamu akan mengenal mereka. Bila belum ada, kamu bisa memulainya sendiri semudah memulai kelompok tari. Sebab one billion rising tak mengatasnamakan satu organisasi, melainkan milik semua individu yang bergabung, siapapun dia. Inilah gerakan yang merangkul dan tak mengepal.

Dan One Billion Rising begitu masif dan global. Bayangkan 190 negara dan terus bertambah (3 hari lalu, baru 184 negara). Masing2 negara punya entah berapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari entah berapa orang. Setiap orang datang dengan energinya masing-masing. Baik yang pernah mengalami kekerasan dan lelah diam, maupun yang ingin menunjukan solidaritasnya yang tulus. Semuaaaa turun ke jalan dan menari serempak pada tanggal 14 Februari 2013. Wow!

Gerakan semasif ini, dan dunia tak mungkin mengacuhkan. Dunia akan ditunjukkan bahwa keberanian untuk berdiri dan melawan bukan hanya milik segelintir pejuang gender, melainkan milik semua perempuan.

Tanggal 14 Februari, saya mengajakmu, kawan-kawanmu, dan semua untuk bergabung dalam revolusi dansa One Billion Rising.

Strike! Dance! Rise!

http://www.onebillionrisingindonesia.org/

@OBR_Indonesia @OBR_bandung @OBR_Jogja

@OBR_surabaya

http://www.facebook.com/pages/One-Billion-Rising-Indonesia/116669861837545

(Bila belum ada kelompok OBR di kotamu, silakan buat. Caranya di http://www.onebillionrising.org/page/event/create.)

Karnaval Yang Tidur Siang

Tunggulah matahari terbenam. Maka lampu-lampu benderang akan dinyalakan.  Motor-motor tong setan akan menggeram. Jerit dari dalam rumah hantu di kuping kananmu, dan tawa dari komidi putar di kuping kirimu. Hingar bingar, gegap gempita, semua gembira.

Tapi siang ini, tak ada keriaan. Hanya wajah-wajah lelah sisa semalam, pria-pria liat yang mengaso mencari teduh. Wahana warna-warni yang terlihat karat dan reotnya saat diam tak bergerak. Kereta bianglala tampak seperti kerangkeng dan wajah kuda-kuda karusel seakan meringis tersiksa. Mohon maaf, kawan, kembalilah nanti malam saat kami hidup, meriah dan tertawa. Mohon maaf, saat ini karnaval sedang rehat.  

(dipotret saat sedang senang, diunggah saat sedang murung)

Memangkas Biaya Lebih Seru Daripada Memangkas Rambut.

Nyaris 10 tahun yang lalu, saya pernah mencoba memangkas rambut sendiri dengan maksud hati membuat mohawk. Bermodal clipper pinjaman, saya mulai membabat rambut dari depan ke belakang. Namun ternyata clipper yang sedikit tumpul itu tak mudah dijinakkan, malah berbelok-belok seenak jiwanya. Hasilnya adalah mohawk yang miring. Beberapa hari saya pertahankan mohawk konyol itu, dan menjadi bahan tertawaan semua orang. Hingga akhirnya saya pangkas habis sampai botak. Dari pengalaman ini saya simpulkan, biarkanlah hal-hal tertentu diserahkan pada ahlinya. Toh ongkos pangkas rambut tak seberapa dibanding mohawk miring.

Namun pemangkasan yang saya cukup ahli adalah pangkas-memangkas biaya, terutama dalam hal mengisi rumah. Dari dulu saya selalu senang menggunakan barang-barang bekas atau barang sehari-hari untuk dijadikan interior pieces. Bukan hanya lebih murah, dan gak ada orang lain yang punya, dan memberi kepuasan yang tak terbayarkan. 

Untuk ruang depan rumah ini, saya menginginkan sebuah piece yang selain bisa untuk duduk-duduk, juga bisa jadi tempat tidur buat kawan-kawan yang menginap. Membuat sofa besar sudah tentu diluar budget, dan saya enggan membeli produk massal yang bau pabrik. Jadi saya putuskan membuat semacam dipan. 

Dibandingkan membuat dari nol, ada cara lain yang lebih praktis. Yaitu menggunakan palet kayu sisa gudang. Dengan bantuan teman saya Ibenk, saya menemukan setumpuk palet kayu bekas di Kalibata dengan harga Rp. 45.000 untuk ukuran 90 x 120 cm. Saya beli empat. Dengan biaya Rp. 180.000, plus kira2 Rp. 40.000 untuk beli amplas dan vernis, base untuk dipan beres sudah. 

Tinggal joknya. Saya sempat syok ketika sebuah toko di Mayestik memberi harga Rp.750.000 buat jok busa seukuran 90 x 240 cm. Jadi saya coba ke tempat berkleding di Jl. Abdul Majid, mendapat harga kurang dari setengahnya karena menggunakan busa sisa yang disambung. Gak masalah! 

Ternyata hobi menimbun kain terbukti berguna di saat seperti ini. Tidak perlu keluar uang lagi buat beli kain untuk cushion cover. Cukup ongkos jait saja. 

Base dipan sudah jadi, joknya juga sudah. Supaya terlihat hip kayak anak-anak sekarang (?) saya tambahkan throw blanket IKEA, koncian dari jaman kuliah. Dan beberapa throw pilliows. Jumlah throw pillows akan saya tambah secara bertahap dengan warna yang bertabrak-tabrakan biar semakin soulful. 

Oya, bagian kolong dipan juga bisa digunakan untuk menyimpan sandal, DVD, buku dll. 

Sekarang yang dibutuhkan ruangan ini tinggal karpet saja. Ada yang mau menyumbang? 

Apathy is the lubricant that glides us through life painlessly. So painless, we dont even realize we’re gettin fucked in the butt.

bohemianhomes:

Bohemian homes : Dream kitchen

bohemianhomes:

Bohemian homes : Dream kitchen

(via )

Seksi adalah si pendiam yang tak pemalu, si rendah hati yang tak rendah diri. 

Seksi adalah tawa tulus dan lepas seorang laki-laki yang bersenda gurau dengan anak-anak kecil. 

Seksi adalah dia yang tetap menatap lurus ke depan saat semua orang menunduk karena digertak.

Seksi adalah laki-laki yang tak takut pada sisi femininnya dan perempuan yang tak takut peluh dan debu.

Seksi adalah dia yang dengan sepenuh hati membuat perabotan, menjahit pakaian, dan meracik makanannya sendiri. 

Seksi adalah kusutnya wajah seorang perempuan yang mengetik, menghisap kretek dan menyeruput kopi mengerjakan tugas kuliahnya semalam suntuk. 

Seksi adalah kata bijak yang keluar dari mulut seseorang yang sama sekali tak peduli tentang apa itu bijak. 

Seksi adalah aroma dua cangkir kopi yang membangunkanku di pagi hari. 

Seksi adalah kombinasi unik telapak tangannya yang kasar karena bekerja dan otaknya yang tajam karena diasah.

Seksi adalah ketika dia sambil lalu berhenti memungut sampah di pasir pantai saat kami berjalan-jalan sambil berbincang ringan suatu sore.

Seksi adalah percik api di suaranya dan nyala di matanya saat ia membicarakan hal-hal yang ia cinta.

Seksi adalah rambutmu yang jatuh membayangi seperempat wajahmu saat kamu asik menggambar. 

Seksi adalah senyumnya saat diam mendengarkan seseorang bicara dengan sok tau tentang topik yang sebenarnya teramat sangat dikuasainya.

Seksi adalah perhatiannya kepada detil yang mungkin terlewat oleh mata orang lain. 

Seksi adalah memasak bersama menggunakan apapun yang ada di lemari es. 

Seksi adalah dia yang dengan senang hati membagi ilmu. 

Seksi adalah sosokmu saat tiba di pintuku, datang dari jauh untuk menemaniku melewati Nyepi yang gelap gulita dengan bincangan hangat dan sederhana. 

Seksi adalah sahabat-sahabat perempuanku setiap mereka membuatku terpingkal-pingkal. 

Seksi adalah setiap saat kamu dengan lembut meletakkan kepalaku, yang terangguk dan terantuk karena kantuk, di bahumu. 

Seksi tak selalu mengandung pun mengundang birahi.  

Seksi menjadi banal bila harus dijelaskan karena memang tak untuk dinalarkan. 

LOBOTOMY
this is what they used to do to people like us.

LOBOTOMY

this is what they used to do to people like us.

Unhappy People Are Entertaining

…and so are crazy people, wild people, angry people, unbelievably dumb people, clumsy people. The list goes on. We sit on the sidelines laughing as they make complete fools of themselves - drunk dancing on the table, trips on a rock and falls down, asking stupid questions. We watch and follow their emotional turmoils with interest - their overblown fight with their spouses, their tweetwars with people of opposing standpoints, them knocking someone’s tooth out over parking money, and then we watch their downfall as they wither and shrink smaller and smaller into nothing but self pity. 

I am not only talking about the people on infotainments, on reality shows, I am also talking about those closer to your circle. It doesn’t need to be the Kim Kardashian or Anna Nicole Smith of the world. It can be your sister’s slutty friend, your kooky uncle, the thug down the street, or the dysfuctional family living next door.

These people are comedy. They are drama. Sometimes action. The ones with the supernatural abilities - which is not uncommon in Indonesia- can be horror as well. These people give thrills to our lives, without us having to go through the roller coasters ourselves. They make us feel normal and superior. They give our life a sense of stability in comparison to theirs. We need these people to keep going through the shit they through because whether you wish to admit it or not, god damnit they are entertaining. 

Pause.

Guess what. I am one of those people. I am the entertainment. And from where I am standing it is not fuckin funny. 

I have no intention of boasting about it proudly, nor am i ashamed of it. It’s just who i am. The little girl who had a very hard time fitting in, got bullied and laughed at in school, and compensated it by fighting and breaking every rules enforced on her. The teenager who was ambitious about knowing everything through hands on experiences - legal or illegal. The woman who is lucky to still be alive today. 

Though i have simmered way down since my heyday - much more at ease and at peace with the world - i still can’t seem to unbuckle this fucking seatbelt and jump out of the roller coaster. My highs are still extreme highs, and my lows are sometimes in the very bottom of everything.  And as far as I try to steer clear from drama, it still manage to find me all the time. I don’t know, perhaps i just subconsciously invite it in. 

There were many times that I wish I was simple and *sigh* normal. Like you. To just go through the phases of life in the right order. To not overthink or overanalyze everything i see and feel. To not be such a fucking sponge and absorb everybody’s emotions which weighs me down. To be friendly and pleasant and cheerful. Believe me I have tried. To some, it may seem like these simplicities are  just things that come naturally, but somehow to me they aren’t. To me they are like tight fitting gowns which takes extra effort and sometimes a little help to put on. Whereas my complicated life is like old comfy t-shirts and shorts. They’re on the top pile in my closet and i could slip into them easily. 

But after several failed attempts I am now getting much better at being at peace with  my ever changing self. Though i need to constantly and consciously remind myself of things like these.

  • Everybody is a work in progress with each their own unique path and process. This just happens to be my path and process. Enjoy the journey.
  • There are things that are just completely out of my control. The only thing I can control is how i respond to whatever i am facing. 
  • If I am disturbed it’s because i find people and situations unacceptable to me and i will always feel like shit until i accept that those people are just how they are, and those situations as being the way they’re supposed to be at this moment.
  • Lighten the fuck up!

I write affirmation words on little cards - the ones that i have tested and proven of course - and carry them everywhere in my wallet. I know that sounds cheesy, but fuck it, they help. So you see, I put real fuckin efforts to not get sucked into darkness. 

But what doesn’t help are the people who love watching my demise. Exactly what i pointed out in the beginning, about how people see other’s fuckedupness (is that even a word?) as some kind of self-reassurance that their lives are better. Or worse yet, as entertainment. 

Couple of years ago, when i went into recovery for addiction, and started to feel better, see better and live better, i got complains left and right from people who thinks i am “No longer fun”. Meaning no more drunk fights with strangers, no more smack-down bitchy remarks to people i hardly even know, no more impulsive life-threatening behaviors. These are people who never even seen me in my depressing withdrawal episodes. To them, I say “If I end up in jail, institutions, and death, will you be there? Guess not. So would you kindly fuck off please?”

Many years back, a disastrous thing happened due to an activism action gone wrong. It cost me a lot of grieve and forced me to leave a life i loved. For years after that, i chose to steer clear of any sort of activism, mild or extreme. But i guess that fire inside me never really died. At one point, something ticked me to get my ass moving again, though more thought out than before. Not long after, a girl i knew from those flag-burning days sent me a message on facebook, basically saying “I’m glad you are awake again. You have been boring me with your stagnant life” The fucker blamed it on my (ex) boyfriend Eki with whom i had a very secure and stable relationship. She hates seeing me happy. She wants me to stay angry and reckless and self centered. 

Recently, a kid on twitter mentioned me and wrote “kangen twit kak @kartikajahja yang galau-galau deh. galau lagi dong kak.” another one wrote “gak seru nih @kartikajahja lagi jarang marah-marah.” I don’t even know these people, and i guess it is the consequences i get for broadcasting my life on twitter. But you get the point. 

We have our highs, we have our lows. Some of us more with more fluctuations than others. The people you think are so fucked up, they have their moments of serenity. The people who you think are so perfect, they have their “oh shit” moments too. So you can’t expect a person to stay in the same emotional state because you like them that way.  As for me, I am not living in a pink cloud of love peace and serenity. But I am not completely miserable all the time either. Whatever emotional state I am in, whether i keep it to myself or choose to express it, I don’t do it for your entertainment. So if you feel like i am irritating you or boring you, feel free to walk away. I kindly suggest you  get yourself a life. 

PS

Ask yourself. Are you really on the spectators side or are you the entertainment? Do you make yourself believe that you are the normal one watching the weirdos? Or do you not realize that to some, you are the weirdos? They are watching you as you watch other weirdos while feeling so normal and superior. 

Life shrinks or expands in proportion to one’s courage.

Anais Nin